Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. —Matius 20:26
Ketika kita benar-benar kuat, kita memiliki keberanian untuk mengakui kelemahan kita dan mengakui ketergantungan kita kepada Allah. Sebagai hasilnya, kekuatan yang sejati akan seringkali tampak seperti kelemahan. Ketika Rasul Paulus berdoa agar Allah mengambil duri di dalam dagingnya, Allah menjawab,"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor. 12:9). Paulus menanggapinya dengan kata-kata yang mengusik,"Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (ay.10).
Menjelang akhir pelayanan Yesus di bumi, sejumlah murid-Nya bertengkar untuk memperebutkan posisi penting. Yesus menggunakan pertengkaran mereka sebagai kesempatan untuk mengajarkan bahwa di dalam kerajaan-Nya, segala sesuatunya berbeda: kebesaran diperoleh ketika kita bersedia menerima posisi yang lemah (Mat. 20:26).
Ini adalah kebenaran yang keras. Saya lebih suka ilusi kekuatan daripada menyadari kenyataan bahwa saya lemah. Namun, Allah menginginkan kita supaya menyadari bahwa kekuatan sejati kita miliki di saat kita tidak lagi berusaha mengendalikan orang lain dan mulai melayani mereka. —JAL
Hidup yang kita jalani bagi kemulian Allah,
Marilah menjalaninya di dalam pencerahan alkitabiah:
Kekuatan Allah sempurna di dalam kelemahan kita;
Dialah yang mengendalikan segala kekuatan dan kuasa. —Branon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar