Jumat, 04 Desember 2009

Janji Tuhan

Baca: Yesaya 30:15-26


Sudah tujuh belas tahun lebih saya me­­li­hat dunia dengan bantuan kaca­ma­ta. Beberapa tahun terakhir ini saya makin sa­dar akan risiko-risiko yang mungkin mun­­cul karena kondisi mata saya—ke­mung­­kinan lepasnya lensa mata, meni­pis­nya kornea, maupun kebutaan. Kesadaran ini mengubah kehidupan saya. Setiap pa­gi, saat saya membuka mata dan melihat ba­­yang-bayang kabur, saya bersyukur da­lam hati. “Tuhan, terima kasih. Saya ma­sih bisa melihat”. Saya tahu, ada ke­mung­kin­­an saya bangun dan tak dapat melihat apa pun. Jadi, saya sangat bersyukur apa­bi­la ha­­ri ini saya masih bisa melihat, mes­ki de­ngan keterbatasan.

Terkadang Tuhan mengizinkan kita un­­tuk menyadari, bahkan mengalami kera­­­puh­an hidup dan ketidakberdayaan, supaya Dia dapat menun­juk­kan kasih-Nya kepada kita. Demikian pula saat menghadapi ta­hun yang baru. Kerap kali kita menjadi pesimis di tengah terpaan kri­sis eko­nomi global, krisis pangan, perubahan iklim, atau bayang-ba­yang PHK. Di tengah kesesakan hidup, mungkin kita berpikir bah­wa Tuhan “sengaja ingin membuat kita menderita”. Namun, itu ti­dak benar. Tu­han berfirman kepada bangsa Israel melalui Nabi Yesaya bah­wa “Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan ka­sih-Nya ke­pada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi ka­mu” (ayat 18). Yang perlu kita lakukan adalah bertobat dan tinggal di­am; ting­gal tenang dan percaya (ayat 15).

Sementara menghadapi segala kerapuhan hidup atau berbagai an­­caman yang menghadang, kita dapat memegang janji Tuhan. Bah­­wa Dia menanti-nantikan saat untuk menunjukkan kasih-Nya, me­­lalui apa pun yang terjadi

BERKAT TUHAN TERLALU BESAR HINGGA APA PUN YANG MENIMPA, KITA AKAN SELALU TEGAR

Penulis: Grace Suryani (WWW.RENUNGANHARIAN.NET)

Tidak ada komentar:

Chat


Pengikut

Blog Archive